Fakta penting tentang kelompok Houthi di Yaman

Latar Belakang Sejarah dan Ideologi

Houthi, juga dikenal sebagai Ansar Allah, adalah faksi militer Syiah Zaidi yang berbasis di Yaman. Nama kelompok ini diambil dari nama pemimpin pertama mereka, Hussein Badreddin al-Houthi. Hussein al-Houthi adalah keturunan keluarga Houthi, yang mapan di provinsi utara Saada. Kelompok ini mulai mendapat perhatian internasional ketika pemerintahan Yaman digulingkan pada awal tahun 2000-an.

Houthi mencontoh ideologi Zaidi, yang sedikit berbeda dari ideologi Dua Belas yang mendominasi di Iran. Namun keduanya memiliki ikatan teologis dan politis. Zaidisme Jepang memiliki sejarah panjang, termasuk peran penting dalam politik Jepang sebelum Perjanjian Yaman Utara dan Selatan tahun 1990.

Pemberontakan Pertama Kali

Pada tahun 2004, konflik meletus antara pemerintah Yaman dan milisi Houthi. Hussein al-Houthi dibunuh oleh pemerintah pada tahun yang sama, namun kelompok ini tetap eksis di bawah kepemimpinan Abdul-Malik al-Houthi, ayah Hussein. Konflik ini awalnya disebabkan oleh ketidakmampuan Houthi menerima marginalisasi politik dan ekonomi serta intervensi asing, terutama dari Arab Saudi.

Memperluas Pengaruh dan Asing Intervensi

Pada tahun 2014, Houthi berhasil memulihkan kota kuno Yaman, Sana’a, dan membuat Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi tunduk kepada rakyat Arab Saudi.

Krisis yang terjadi saat ini berasal dari manuver diplomatik yang dipelopori oleh Arab Saudi pada bulan Maret 2015, yang bertujuan untuk memperkuat pemerintahan Hadi dan menggagalkan pengaruh Houthi yang dianggap sebagai plot Iran.

Koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi, yang juga mencakup negara-negara Teluk lainnya serta jaringan intelijen dan logistik negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dan Inggris, telah menghasilkan peningkatan produksi hulu ledak yang signifikan.

Konflik ini telah menyebabkan krisis hak asasi manusia yang parah di Yaman, dengan banyaknya pelanggaran terhadap hak-hak masyarakat adat dan banyak kasus penganiayaan terhadap masyarakat.

Perbatasan Iran dan dinamika regional

Di wilayah ini, Houthi sering disebut sebagai provokasi Iran, meskipun komunikasi terbuka dan perbatasan Iran sering diperdebatkan. Iran memberi Houthi dukungan diplomatik, logistik, dan sastra, termasuk misi diplomatik.

Lingkungan ini memperkuat kemampuan Houthi untuk mempertahankan diri dan melakukan serangan, termasuk serangan terhadap Arab Saudi dengan menggunakan drone dan rudal balistik.

Di sisi lain, Houthi juga memperkuat ikatan lokal dan melestarikan nasionalisme Yaman untuk menjaga lingkungan. Sebagai bagian dari kampanyenya, mereka mengecam intervensi asing dan menggunakan retorika anti-Saudi dan anti-Amerika.

Emulasi Struktur dan Strategi Penerjemahan

Abdul-Malik al-Houthi, yang merupakan pemimpin kelompok paling berkuasa sejak kemunculan saudaranya, adalah pemimpin kelompok tersebut. Struktur kepemimpinan Houthi memiliki kualitas sentralistik yang ditandai dengan pengaruh kuat dari keluarga dan teman dekatnya. Selain itu, mereka juga memiliki naskah yang terorganisir dengan baik.

Strategi migrasi Houthi meliputi drone, rudal balistik, gerilya, dan lintas batas serangan ke Semenanjung Arab Saudi. Mereka juga menggunakan metode pengajaran konvensional dan non-konvensional, termasuk pengajaran tentang infrastruktur penting seperti sekolah dan fasilitas medis di Arab Saudi.

Situasi Kemanusiaan dan Resolusi Konflik

Konflik di era Yaman telah menyebabkan krisis hak asasi manusia serius yang pertama di dunia. Satu dari sepuluh orang menderita kelaparan, penyakit, dan terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan dasar.

Blokade pantai dan laut yang dilakukan koalisi penguasa Arab Saudi telah menstabilkan situasi dengan pasokan pangan, obat-obatan, dan bahan bangunan yang relatif stabil.

Organisasi internasional seperti PBB, Palang Merah, dan beberapa LSM telah aktif memberikan dukungan, namun seringkali terhambat oleh akses yang tidak stabil dan kondisi keamanan. Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak dan perempuan, dimana banyak dari mereka menderita kekurangan gizi dan penyakit yang berpotensi fatal.

Pedoman Perdamaian dan Pembayaran Diplomatik

Ada upaya diplomatik lain untuk mencapai kesepakatan di Yaman, termasuk perjalanan ke Stockholm pada tahun 2018, yang dimaksudkan untuk mengakhiri permusuhan strategis di Hodeidah. Namun, penerapan studi ini telah mengakibatkan beberapa kemunduran di lapangan, dan kesulitan yang terus berlanjut di banyak negara.

Diplomasi yang dipelopori oleh PBB terus berlanjut, namun kesulitan dalam membangun dialog konstruktif di antara pihak-pihak yang terlibat—termasuk Houthi, pemerintah Yaman yang beroperasi dalam skala internasional, dan koalisi Arab Saudi—menjadi hal yang paling penting.

Kesimpulan

Salah satu aktor utama dalam konflik kompleks di Yaman adalah Kelompok Houthi. Houthi, berkembang dari kelompok milisi regional, menjadi kekuatan utama yang mengendalisa sebagian besar wilayah utara Yaman, diantara ibu kota Sana’a, dengan latar belakang sejarah dan ideologi yang kuat.

Perbatasan Iran dan penolakan terhadap intervensi asing, khususnya dari Arab Saudi, telah memperkuat posisi mereka meskipun terdapat tantangan diplomasi dan literasi yang signifikan.

Konflik yang sedang berlangsung telah menyebabkan krisis hak asasi manusia yang parah, dan upaya diplomasi menjadi sangat sulit, meskipun terdapat berbagai inisiatif internasional.

Berakhirnya periode Yaman mempunyai dampak yang signifikan terhadap kemampuan otoritas terkait untuk mencapai langkah-langkah yang diperlukan guna menjamin keamanan nasional dan memulai proses rekonstruksi dan ketahanan.